Manggarai yang khas akan budaya tetap memberikan cercah nasihat atau pesan moral7 bagi khalayak melalui berbagai aspek budaya itu sendiri. Selain pesan moral yg tak kalah pentingnya adalah nilai estetika yg ditampilkan dan membius hati orang luar untuk mengetahui banyak hal tentang budaya Manggarai. Ada seni tari yaitu caci dan danding,ada seni suara yaitu Mbata juga seni rupa yg lebih banyak nampak dalam karya kriya dan busana adat dengan corak warna juga motif hias yang unik.
Satu hal yang sangat menggugah penulis saat ini adalah go'et yg berarti nasihat dan larangan yaitu "Neka Nia Ngeru Nitu Wesut"
Deretan kalimat ini memiliki makna yang dalam. Ini adalah kalimat larangan. Saya memberikan artinya terlebih dahulu:
Neka:jangan,nia: dimana,menunjukan tempat atau situasi,Ngeru: wangi,lebih identik dengan makanan (daging),pesta atau hajatan,Nitu:disitu,wesut:pergi.
Arti menyeluruhnya: janganlah pergi ke sebuah hajatan dengan tujuan keramaian dan makanan walaupun tidak diundang. Deretan ungkapan ini cukup tajam dan sedikit bernada sinis. Tetapi ini mau menunjukan tentang harga diri seseorang. Ini menjadi prinsip dasar seseorang untuk mengikuti sebuah hajatan ataupun kegiatan lain yg melibatkan bnyak orang.
Di zaman milenial ini tentu banyak orang sudah memahami etika tentang mengikuti berbagai bentuk kegiatan publik yaitu pentingnya UNDANGAN. Banyak orang sudah mengaplikasikan Ungkapan "Neka Nia Ngeru Nitu Wesut" dengan cara berpikir kritis yaitu tidak mengikuti sebuah kegiatan publik jika tidak mendapat undangan. Jika ada undangan yg diundang pasti hadir dan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
Tetapi sebagian orang bisa saja menomorduakan Undangan hanya karena mau terlibat,rasa kekeluargaan dan menjaga perasaan penyelenggara. Nah misi menjaga perasaan inilah yg menimbulka Baper (terbawa perasaan) anak gaul bilang...Baper yg menghilangkan etika dan logika. Baper inilah yang menimbulkan banyak pertanyaan dan analisa..mengapa dan ada apa??? Pertanyaan berbagai pertanyaan akhirnya tak bisa diolah dengan baik dan hanya menjadi rantai permusuhan,rantai untuk saling membuat tersinggung. Hal ini banyak terjadi yang membuat banyak orang lupa diri bahwa selain cara berpikir yang kian milenial manusia juga sudah sejak lama dibentuk dengan budaya dan adat istiadat seperti yang terkandung dalam ungkapan Neka Nia Ngeru Nitu Wesut. Ungkapan ini membantu proses pembentukan pribadi dalam hidup berorganisasi dan hidup bermasyarakat,untuk mengutamakan Undangan dan untuk menyadari bahwa jika ada orang yang tidak menghadiri satu kegiatan atau hajatan atau apapun bentuknya yang melibatkan banyak orang itu artinya dia tidak mendapatkan undangan secara resmi.
Sebagai penulis,saya merasa bahwa mendalami ungkapan ini membutuhkan banyak referensi yang nantinya bisa disesuaikan dengan karakter manusia juga cara pandang manusia tentang sesuatu secara logika dan nilai etika serta pergeseran nilai moral juga praktek hidup beriman dalam masyarakat. Ini hanya ulasan sederhana untuk mengingat kembali pesan dari ungkapan Neka Nia Ngeru Nitu Wesut.
Tabe.