Kamis, 02 Maret 2023

Terpaku,Membeku dalam Jarak

 Kelas VI
SDI Kalo
Kisah hari ini mengulang kenangan masa lalu saat masih di bangku SD. Pagi ini masih sama,suguhan kabut dan gerimis belum beralih. Menyapa mereka dengan hangat adalah satu sarapan batin yang mengenyangkan. Bukankah begitu juga saudara guruku yang lain๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ??

Satu suara menggugah,namanya Nadia..

"Ibu...pindah tempat duduk Ibu..!"

Hah..pindah..?kan ini sudah pas...sahutku..!

Kelas mulai ramai,Nadia,Mita,Kon,Carli,Ano dan banyak yang bersuara.

"Ibu...Ibu In bilang pindah tempat duduk,karena kami ribut..! Ibu yang atur teman duduknya..!"

Okay ...harus duduk berpasangan...!

Oeeeeee Ibu....๐Ÿ˜”๐Ÿ˜”๐Ÿ˜”๐Ÿ˜”semuanya bersorak๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„

Sayapun mengatur mereka duduk berpasangan. Tentunya banyak yang protes..๐Ÿ˜„

๐Ÿง’๐Ÿง’Ibu...kami tidak mau duduk berpasangan,nanti malah baku olok..!! Ibu..tolong ibu..!!

Ah...tingkah lucu ini menggemaskan. Sebegitu tak maunya mereka duduk berpasamgan. Wejanganpun mulai saya tuturkan.

"Kenapa kalian malu..biar saja duduk berpasangan,nanti kalo sudah besar tidak malu lagi.bahkan kalau sudah tamat kalian pasti saling merindukan dan akan sangat senang bila bertemu lagi dengan teman angkatan"

"Duduk sama itu bukan pacaran,kalian ini sahabat,jadi duduk tenang saja"

Suara-suara protes masih bersahutan.

"Okay...saya buat perjanjian..kalau les matematika boleh duduk berpasangan,setelah itu kembali ke tempat duduk semula" merekapun bersorak senang.

Jadilah pelajaran hari ini penuh ancaman. Saya memberikan mereka waktu untuk membereskan materi kemarin dan jika ada yang ribut selalu saya ucapkan "batallll perjanjian..!"

Sampai les brakhirpun mereka tetap duduk dalam jarak,bahkan menarik kursi lebih ke pinggir meja agar lebih jarak lagi dengan tan duduk. Perasaan-perasaan pada usia ini masih dipenuhi rasa malu. Cara mereka duduk juga seperti membeku dalam dingin musim ini,terpaku dalam rasa malu mereka sendiri.

Sampai jam berakhirpun masih duduk dalam jarak...dan selalu meminta...Ibu...kalau selesai les matek pindah lagi eee..Ibu ee...๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„

Merengek manja itu sudah menjadi kedekatan yang luar biasa. Bahkan ada juga yang berani ukur tinggi dengan Ibu Guru yang tinggi satu meter kotor ini๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„

Sekian cerita hari ini,siapapun engkau sang guru,pasti selalu ada cerita lucu yang menggelitik hati.

Rabu, 01 Maret 2023

Mengabdi pada apapun


 Berharaplah terus agar embun-embun akan selalu menyegarkan,agar warna itu akan selalu merona,agar hari baru tetap membingkis semangat..

Untukmu mentari...aku tak tau seberapa banyaknya hujan memberi jeda pada jumpa kita,tetapi ini tentang alur musim,yang membawamu bersembunyi dibalik kabut gelap dan rinai hujan yang datang dalam rupa bervariasi dari gerimis sampai pada aliran paling deras.

Basah dan lembab kini menanti panasmu tapi aku tetaplah pada satu jalan meniti jejak pengabdian yang sama.

Dan untukmu hujan...taukah kamu bahwa karenamu,lumpur-lumpur kini menjadi tak beraturan,jejak-jejakpun terukir licin pada jalanan,memberi tantangan pada banyak langkah yang tetap berjuang mencari makna dan nafkah..dan aku tahu ini adalah waktumu tiba menggenapi musim.

Pada terik,hujan,angin dan dingin..pengabdian ini tetaplah mengalun sama..untuk riak-riak kecil yang adalah tunas negeri...kendalikan dengan banyak bijakmu walau terbentuk dari banyak emosi,mengasah sabar agar nanti menjadi generasi yang baik.

Terik,hujan,angin dan dingin adalah warna hari efektifmu...yang kau warnai dengan nurani pengabdian. Dan untukmu langkah-langkah yang mengayun lambat,bayarlah itu dengan makna,pada cara belajar dan mengajar yang menyenangkan.

Mengabdilah pada apapun,pada terik,hujan,angin,dingin dan jalan bebatuan